The ♥ Wedding

Daisypath Anniversary tickers

Selasa, 23 Oktober 2012

Make Up Artist

Duh duuuh...blog ini sudah lama banget nggak diterusin :( Saya dan Reza sudah 7 bulan menikah, dan bayi di perut saya sudah berumur 4 bulan saja haha... Tapi, sayang banget kalau saya nggak meneruskan kembali tulisan di sini. Yuk, kita lanjut yaaa... 

Hampir semua orang yang berkomentar tentang make up saya di hari H mengatakan mereka pangling banget sama saya. They said i look stunning. NOT only me, my mom and mother in law are also stunning. Banyak teman-teman ande (ibu saya) bahkan yang terpana melihat penampilan ande hari itu. My mom never do make up on daily basis, jadinya ketika didandani sedemikian rupa, orang-orang jadi terpana hehehe :D Kalau saya kadang masih suka pakai make up tipis-tipis. Tapi tetap saja kayaknya semua komentar yang muncul hari itu bilang saya terlihat beda, i look glowing.

Make up artist saya hari itu adalah mbak Puri. Mbak Puri ini adalah rekanan dari House Of Yunishka, tempat saya meminjam baju akad dan resepsi. Nah House Of Yunishka ini nggak lain adalah rekanan dari Nendia, katering saya. Awalnya saya hampir saja nggak mengambil paket make up dari mbak Puri. Sejujurnya, make up adalah salah satu hal yang paling membuat saya kuatir saat itu. Saya sering punya pengalaman buruk dengan make up artist. Dulu sekali, saat saya masih aktif bernyanyi dan manggung sana sini, tentu saja make up adalah hal yang krusial. Sering banget saya dipegang oleh make up artist yang asal-asalan banget mendempul wajah saya. Ya alisnya jadi kayak sinchan lah, yang blush on nya kemerahan lah, yang mata saya jadi kelihatan lebih kecil lah. Nightmare :( Akhirnya saya sempat mau pakai jasa teman yang sudah lama saya kenal dan sudah pernah saya lihat hasil make up nya. Tapi setelah dihitung-hitung, kok biayanya jadi membengkak banget ya? Saya nggak mungkin minta bapak untuk menambahkan biaya di make up, padahal dari Nendia pun sudah memberikan paketan termasuk make up. Ya sudah, akhirnya Bismillah, saya putuskan tetap pakai make up artist rekanan Nendia dan Yunishka.

Saya add lah facebook mbak Puri, demi melihat hasil make up mbak Puri. Dari foto-foto di albumnya, saya melihat kalau mbak Puri ini sudah cukup profesional. Pengalamannya nggak cuma di bidang make up pengantin saja, sudah banyak artis yang pernah bekerja sama dengan mbak Puri. Dan kok ya ndilalah tiba-tiba salah satu teman saya (Ririe) bbm menanyakan tentang mbak Puri. Ternyata di pesta pernikahannya dulu, dia juga di-make up oleh mbak Puri. Komentar Ririe saat itu membuat saya sedikit lega. Katanya mbak Puri nggak mengecewakan sama sekali, hasil make up nya bagus dan pas banget di wajah. Produk-produk yang dipakai mbak Puri juga terbilang berkualitas. Lalu, beberapa bulan sebelum pernikahan saya, salah satu teman saya lainnya (Mieke) juga memakai jasa mbak Puri dan hasilnya juga bagus. Saya semakin tenang. Alhamdulillah, Allah mendengar doa saya :D

Ini foto-foto saya yang sudah di'dempul' sama mbak Puri.

before and after, yang before kayak mayat yah :(
with the amazing mbak Puri
before lipstick
lipstick added




DONE!!
Sesuai dengan testimoni Ririe dan Mieke, mbak Puri did a brilliant job. Selesai resepsi, banyak sekali teman-teman saya yang tanya nomor kontak mbak Puri. Sayang sekali saya nggak sempat bertanya kontak ke mbak Puri. Selama ini saya cuma berkomunikasi lewat facebook saja hehe.. Tapi mbak Puri Insya Allah selalu aktif kok membuka facebooknya.

Puri Indah Sari
http://www.facebook.com/puri.i.sari.7

Sabtu, 24 Maret 2012

The Day

So, The day has pass for about three weeks now. I am so sory for not updating this blog ever since. Been busy adapting my self into this marriage life. Well i am not gonna write about that here, got another blog for that hohoho.. But don't worry, this blog wont end up in here. I still have few things to share. Here's the picture of me and my husband on the day:


We would like to thank EVERYBODY. Family, guests, Nendia Primarasa (mbak Resti dan mbak Rina), my make up artist (mbak Puri and team), Rumah Pengantin Yunishka (mbak Nana and Uni Iva), my extra ordinary MC (mbak Wulan), and all of my cousins and aunts who're volunteering themself the whole day to make the event success. Thankyou... and ThankYOU (of course) Allah for making the day happened. Thankyou...

Minggu, 05 Februari 2012

Making Your Own Invitation Label

Pagi ini sambil mengetik ulang daftar undangan yang puanjang buanget itu, saya iseng googling keyword "Template alamat undangan", lalu muncullah beberapa link dan saya memilih link ini. Di sana dijabarkan cara membuat template label nama yang bisa kita ketik dan print sendiri dengan MS Word. Yang dicontohkan di sana adalah membuat template label nama dengan sticker Tom & Jerry No. 103. Kalau kamu memakai sticker label merk itu, bisa langsung berkunjung ke halaman ini, untuk download langsung template yang sesuai dengan ukuran yang kamu inginkan. Untuk size-nya bisa dilihat di halaman ini. Mudah banget kan?

Tapi, kalau kamu memakai sticker label dengan merk yang berbeda, bisa mengikuti instruksi yang saya ambil dari link Mas Han yang saya cantumkan di atas tadi. Tutorial tersebut sepertinya dibuat dengan basis MS Word 97-2003 deh, soalnya ada beberapa tab yang nggak tercantum di MS Word yang saya pakai sekarang (saya pakai yang 2008, kalau nggak salah). Jadi di post ini saya mau coba menjabarkan kembali tutorial tersebut dengan basis MS Word yang saya pakai. Semoga berguna.

How to make your own name label
(saya pakai sticker label merk Kenjoy No. 103)



Step 1:
Tentu saja membuka laman baru di MS word milikmu. As simple as clicking your MS word icon on the menu. Tunggu sampai halaman baru muncul.

Step 2: 
Pada laman baru tersebut klik tab Mailings, truss klik lagi pilihan labels. Nanti akan muncul seperti ini:
* Klik pilihan Full page of the same label seperti pada gambar.


(klik pada gambar untuk memperbesar)

Step 3:
Klik options pada dialog box di atas, dan akan muncul dialog box baru seperti gambar di bawah.
* Pada gambar yang saya sertakan di bawah tertulis sebuah label bernama "Wedding Label" di kotak Product Number. Itu karena saya sudah membuat template label tersebut sebelumnya. Kalau kamu belum pernah membuat template apapun, kotak tersebut akan kosong.

(klik pada gambar untuk memperbesar)

Step 4:
Membuat label baru dengan mengklik tombol "New Label" dari dialog box di atas tadi. Nanti akan muncul satu dialog box baru lagi, seperti gambar di bawah.
* Nah, kalau kamu pakai sticker label dengan merk yang sama seperti saya, ikuti saja semua angka yang saya cantumkan di kolom-kolom yang mereka minta. Semuanya harus sama ya, jangan sampai ada yang terlewat.
* Tapi, kalau kamu tidak memakai sticker label merk Kenjoy No. 103, sesuaikan semua ukuran yang diminta. Ukur saja sticker label mu dengan penggaris, lalu masukkan deh semua ukuran ke kolom-kolom tersebut. Jangan lupa sesuaikan juga dengan ukuran kertasnya ya.


(klik pada gambar untuk memperbesar)
Step 5:
Setelah semua langkah di atas selesai dilakukan, kamu tekan tombol OK pada dialog box terakhir, lalu OK lagi di dialog box selanjutnya. Nah, di dialog box terakhir (yang tadinya paling pertama terbuka) kamu tekan tombol New Document. Nanti akan muncul sebuah laman word baru dengan template yang sudah sesuai dengan yang kamu setting tadi. Hasilnya akan seperti ini:

(klik pada gambar untuk memperbesar)
Dari template tersebut kamu bisa menyimpannya dalam format template di MS word mu. Nanti, kalau dibutuhkan lagi, tinggal buka saja file template tersebut, maka akan muncul laman baru dengan setting seperti di atas. Selamat mencoba. :)

All steps are based on a self trial by following tutorial from this site.
All pictures are taken from personal collection. 

[The Drama Behind] Invitation List

Jangan pernah percaya dengan kalimat:
Bapak nggak ngundang banyak orang kok, yah nggak sampe 100 orang lah.
Pokoknya JANGAN! Saya ingat sekali kalimat itu diucapkan bapak saat kami memutuskan untuk membuat acara pernikahan ini di gedung. Pikir saya waktu itu, oh.. mungkin karena saya nggak menikah dengan orang yang satu suku dengan saya (baca: Silungkang). Perlu ditekankan di sini bahwa saya lahir dari keluarga besar Silungkang, di mana pernikahan anak sesama suku sangat diagung-agungkan, sehingga pernikahan dengan orang lain suku terkesan memalukan. Bapak saya termasuk yang sangat memegang teguh budaya ini, sampai beberapa kali menolak menghadiri pernikahan keponakan sendiri, karena mereka tidak menikah dengan orang Silungkang. Jangan tanya bagaimana saya melewati peraturan itu sepanjang masa remaja saya dulu. Rasanya menakutkan sekali jika jatuh cinta dengan orang di luar Silungkang. Nggak akan dapat izin dari Bapak. Sampai saya pernah menyembunyikan identitas pacar-pacar saya sebelum Reza karena takut dimarah bapak. Setelah bertahun-tahun sendiri dan saya tambah tua, akhirnya bapak menyerah juga haha.. Bukannya saya nggak pernah usaha untuk cari orang Silungkang loh ya. Wuih.. sebelum akhirnya menyerah itu, bapak dan ande sering sekali menjodoh-jodohkan saya dengan banyak pemuda Silungkang. Tak ada satupun yang bisa mengambil hati saya. Ya apa boleh buat.

Nah, kembali ke masalah list undangan ini. Saya awalnya percaya saja dengan perkataan bapak yang dikutip di atas tadi. Saya toh tidak menikah dengan anak keturunan Silungkang, meski Reza masih punya darah Padang. Jadi mereka yang so called niniak mamak itu paling yang deket-deket aja yang diundang, ya kan? Logisnya begitu dong. Eh tapiiiii dua hari ini bapak dan ande mulai menuliskan deh tuh daftar orang-orang yang mau diundang. You know what? dari yang semula saya jatahkan 150 undangan, membengkak sampai 250 undangan saja. Itu kan bedanya 100 undangan, dan bukan jumlah yang sedikit loh. Dari beberapa nama yang diundang, ada juga lah ipar si anu dan ipar si ini yang hitungannya nggak termasuk keluarga besar. Saya sempat protes juga dan minta alasan yang logis kenapa mereka ikut diundang. Alasannya adalah, jreng jreng.. "NGGAK ENAK". Huff, Indonesia dan segala tetek bengek perasaannya.

Dulu waktu nikahan Azizah saya juga banyak protes dengan list undangan ini. Jadi ande mau mengundang salah satu temannya yang bersuamikan salah satu mentri saat itu. Bapak pake yang ribeeeet banget pemikirannya, katanya gedung tempat diselenggarakannya kecil lah, kita nggak bikin ruang VIP lah. The hell with that, hello.. ngundang sih ngundang aja. Kecuali kalo satu kabinet mau diundang semua nah itu baru pikirin keamanan endespreh endebleh nya. Kalo cuma satu mah, ya biar aja si menteri itu yang menjaga dirinya sendiri (atau body guard or so called ajudan nya).

Akhirnya diputuskanlah untuk meng-upgrade paket katering menjadi satu tingkat ke atas. Sudah dua hari ini saya membatalkan meeting dengan Nendia karena bapak masih terus merasa masih banyak orang yang perlu diundang. Kalau begini caranya, bisa-bisa undangan teman-teman saya dan Reza yang kena potong sana sini. HIKS :'( Ternyata betul kata orang, pesta pernikahan itu bukan acara mempelai yang menikah, tapi acara orang tua keduanya yang akan dipenuhi dengan wajah-wajah yang hanya para orang tua tersebut yang tahu.

Once in a life time event for us, seems like a none in a life time now. Yah, Alhamdulillah beberapa jam sebelum itu, saya dan Reza akan resmi menjadi sepasang suami istri. Amin ya Rabb, mohon perlancar jalan kami. Amin.

Selasa, 24 Januari 2012

Lamaran

OMG.. i am too nervous to even take a picture. Ya iyalah, ya masa lagi pertemuan keluarga gitu malah foto-foto :P

Lamarannya sih udah seminggu yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 14 Januari 2012. Saya sempat senewen juga dengan lamaran ini, pasalnya Reza nggak juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Project di Jambi mandek karena banjir, padahal katanya tinggal 0,sekian % lagi. Itu kan sedikit banget. Bahkan belakangan saya tahu kalau ternyata dari 9 unit yang ada, 8 di antaranya sudah dibubarkan. Dengan kata lain sudah banyak personil yang sudah diperbolehkan pulang. Tidak dengan dia, karena job desc yang memang nggak bisa digantikan oleh yang lain, akhirnya dia harus terus standby di sana. Meskipun sehari-harinya cuma di mess saja, menunggu banjir surut.

Dua minggu yang lalu Mama Yvonne dapat kabar dari salah satu Oom yang menyewakan mobilnya untuk project Jambi tersebut, katanya perusahaan di sana mengembalikan mobil tersebut selama 1.5 bulan ke depan karena kondisi di Jambi masih belum kondusif. Jadi bisa dipastikan selama 1.5 bulan itu project di sana terhenti. Langsung mama Yvonne minta Reza izin pulang mengurus surat-surat dan lamaran. Akhirnya niatan awal untuk melangsungkan lamaran tanpa dihadiri Reza pun berubah haluan ke jalan yang benar :)) Reza dipastikan pulang ke Jakarta di tanggal 11, lalu tanggal 14nya keluarga besar saya dan keluarga besar Reza datang ke rumah untuk melangsungkan lamaran.

Sebenarnya lucu aja yah, lamarannya baru dilangsungkan di mana acaranya sudah 75% fix, bahkan tanggal pernikahannya sudah ditentukan jauh sebelum acara itu berlangsung. Alhamdulillah kemarin banyak yang datang, termasuk Kiki dan Emmy yang ikut meluangkan waktu mereka untuk hadir. Saya bersyukur banget ada Emmy di sana, jadi nggak mati gaya banget. Dulu saya pernah mendampingi sahabat saya ~Alifa~ waktu lamaran di rumahnya. Saat itu saya sempat merasa sangat canggung karena nggak termasuk dalam jajaran keluarga. Tapi kehadiran Emmy kemarin membuat saya sadar, kalau tetap saja dibutuhkan seorang teman di sisi kita untuk sekedar berbagi perasaan gugup.

Reza dan keluarga besarnya

Sora, keponakan Reza yang sangat mirip saya waktu kecil :D

Me and Mama Yvonne, clearly i cannot put off that smile during the day :)
Di atas itu beberapa foto yang diambil oleh adik saya dan Emmy selama acara berlangsung. Mereka berdua mengaku kesulitan mengambil gambar dari angle yang tepat. Yah nggak apa deh, yang penting ada dokumentasinya. Acaranya ya sederhana saja. Hampir semua masakan yang disajikan adalah karya ande. Alhamdulillah semuanya suka.

Pertanyaan yang muncul di acara semacam ini pastinya adalah...

"Yang mana sih? yang mana sih orangnya? oh itu tuh, yang ituuu.. ih *** (isi dengan komentar tentang fisik) ya"

I wonder if that also happened on Reza's side. Hahaha.. :))

Pengikut